/>

PELAKSANAAN AKM

Diposting pada: 2020-09-21, oleh : MAN 1 KEDIRI, Kategori: Informasi Sekolah

Liputan6.com, Jakarta - Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Anwar Makarim memastikan Ujian Nasional (UN) pada 2021 akan ditiadakan. Mendikbud telah menyiapkan pengganti UN yang disebut dengan konsep Asesmen Kompetensi Minimum dan Survei Karakter. 
Menurut Nadiem, konsep ini merupakan penyederhanaan dari ujian nasional yang begitu kompleks. Konsep yang digunakan adalah asesmen yang mengukur kemampuan minimal yang dibutuhkan para siswi. Materi yang dinilai adalah literasi dan numerasi.
"Literasi itu bukan hanya kemampuan membaca. Literasi adalah kemampuan menganalisis suatu bacaan. Kemampuan memahami konsep di balik tulisan tersebut," kata Nadiem dalam sebuah acara di Hotel Bidakara, Jakarta, Rabu (11/12/2019).
Sedangkan numerasi, kata Nadiem, ialah kemampuan menganalisis dengan menggunakan angka-angka. "Ini adalah dua hal yang akan menyederhanakan asesmen kompetensi mulai 2021," tuturnya.
Nadiem menegaskan, konsep asesmen kompetensi pengganti ujian nasional itu bukan lagi berdasarkan mata pelajaran maupun berdasarkan penguasaan konten atau materi.
"Ini berdasarkan kompetensi minimum yang dibutuhkan murid-murid untuk bisa belajar apa pun mata pelajarannya," ujar mantan bos Gojek Indonesia itu.
Selain asesmen kompetensi, Mendikbud juga akan memberlakukan konsep survei karakter. Survei karakter ini digunakan untuk mengetahui iklan karakter anak di sekolah.
"Untuk mengetahui ekosistem di sekolahnya bagaimana implementasi gotong-royong. Apakah level toleransinya sehat, apakah well-being atau kebahagiaan anak itu sudah mapan, apakah ada bullying terjadi?" kata Nadiem.
Survei itu, kata Nadiem, digunakan untuk menjadi tolok ukur supaya sekolah-sekolah memberikan umpan balik bagi kegiatan pembelajarannya.
Mas Nadiem, sapaan akrabnya di Kemendikbud itu, juga menerangkan bahwa asesmen dan survei tersebut akan dilaksanakan pada pertengahan jenjang satuan pembelajaran. Sementara ujian nasional selama ini berada di akhir jenjang.
Ada dua alasan mengapa hal ini dilakukan di tengah jenjang. Yang pertama, kata Nadiem, adalah untuk memberikan waktu bagi sekolah dan para guru melakukan perbaikan sebelum sang anak lulus.
"Dan yang kedua karena dilakukan di tengah jenjang ini tidak bisa dilakukan sebagai alat seleksi untuk siswa. Tidak lagi menimbulkan stres bagi anak-anak dan orangtua karena formatif asesmennya," ujarnya.
Nadiem menilai pembelajaran yang tepat bagi siswa ialah pembelajaran yang tidak terlalu mudah, namun juga tidak terlalu sulit. Menurutnya, jika pembelajaran disamakan untuk semua siswa, maka proses pembelajaran yang tepat tidak akan terjadi.
 
"Jadi mengajar di kompetensi yang tepat itu bentuk memerdekakan. Semua siswa di indonesia bisa belajar karena tidak diseragamkan semua level kompetensi. Jadi itulah kemederekaan dalam kurikulum dan siswa menunjukan bernalar kritis tanpa menghapal begitu banyak informasi," katanya.
 
Pada 2021 pihaknya bakal mengalokasikan anggaran untuk penyempurnaan AKM sebesar Rp478,4 miliar. Rinciannya, sebanyak Rp358,2 miliar untuk AKM dan akreditasi, dan Rp120,2 miliar untuk pendampingan pemerintah daerah terkait AKM.

 


Print BeritaPrint PDFPDF

Berita Lainnya



Tinggalkan Komentar


Nama *
Email * Tidak akan diterbitkan
Url  masukkan tanpa Http:// contoh :www.m-edukasi.web.id
Komentar *
security image
 Masukkan kode diatas
 

Ada 0 komentar untuk berita ini

Forum Multimedia Edukasi  www.formulasi.or.id
Apakah Website Sekolah ini bagus ?
Bagus sekali
Bagus
Kurang Bagus
Tidak Bagus
 
120999 Total Hits Halaman
52330 Total Pengunjung
216 Hits Hari Ini
38 Pengunjung Hari Ini
2 Pengunjung Online

Komunitas Edukasi

Forum Multimedia Edukasi www.formulasi.or.id